cerita 1

Nostalgia SD

Tak terasa dua puluh tiga tahu sudah setelah saya menginjakkan kaki di sekolah dasar. Saat itu, tahun 1994. Tahun dimana keseruan masa sekolah dimulai. 

Saya cukup sering tidak masuk sekolah tapi paling jarang mendapat hukuman di kelas. Walau begitu, banyak hal yang sangat berkesan masa itu. Ya, tahun juli 1994 hingga juni 2000. Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Diantara yang berkesan, banyak juga yang terlupakan.

Tahun 2017, tepatnya dibulan januari..Entah bisikan apa yang hinggap ditelinga saya hingga akhirnya memutuakan membuat grup Whatsap, Kawan SD (Kawan Lama). Awalnya hanya ingin memguji kekuatan jaringan. Satu orang menghimpun banyak dalam kurun waktu yang cukup singkat.

Tring ! Di bulan Maret, berhasil mengumpulkan sekitar 35 orang dari 98 lulusan. Saat lulus, tak satupun dari kami menyimpan nomor handphone (selanjutmya disingkat HP) yang lainnya. Karena saat itu HP masih langka. Siswa pun tidak diperkenankan membawa HP. Jangankan HP, foto hasil cetakan film negatif pun bahkan tak banyak yang simpan, mungkin. Tak seperti jaman sekarang yang tiap momen bisa langung difoto dan diupload ke media sosial. Tak seperti jaman sekarang siswa SD bermain di mall, nonton bioskop, meneteng HP, sakupun berbekal uang banyak. Kami masih sangat bersahabat dengan alam, bersenda gurau dengan teman jauh lebih inten. Tapi, untuk reuni saja, butuh waktu yang cukup lama mengumpulkan yang sudah terpisah jarak. Nah, di sinilah seni nya.

Maret 2017. Begitu banyak percakapan yang terjadi dalam grup. Saya akan bahas beberapa yang dapan menjadi perbandingan dulu dan sekarang. Petik yang baik tinggalkan yang buruk. Yuk, mari simak dengan seksama. 🙂

Ha.. Ha.. 

Pak yaya : hadi maju, mana tulang rusuk ??

Hadi : ini pak (sambil nunjukan tangannya ke tulang ekor [baca:pant*t] dengan wajah polos) 

Pak yaya : (ceprot .. tangannya melayang ke pipi)

Seorang teman mengingatkan kejadian ini. Saat itu, saya  ingat, Materi yang dibahas adalah struktur tulang manusia. Ada contok kerangka manusia dipajang di depan kelas. Seorang guru meminta salah satu siswa maju ke depan satu persatu tibalah kejadian diatas. Spontan semua siswa tertawa. Sebagian sudah tahu tulang rusuk. Sebagian lain tidak tahu. Dan  spontan pula siswa kaget saat tiba-tiba hadi kena pukul. Setelah pelajaran selesai, saya cari tahu, ternyata hadi memang benar-benar tidak tahu tulang rusuk itu yang mana? Yang dia pikir tulang rusuk itu adalah tulang ekor karena sering nusuk saat duduk (bagi yang tubuh kurus memang saat duduk tulang ekor sering kali terasa keras menyentuh bangku). Dan dia benar-benar kaget tiba-tiba kena pukul. 

Kejadian di atas saya jamin tak akan pernah terjadi di masa sekarang. Kebebasan berpendapat saat ini menurut saya sangat kebablasan. Guru memukul untuk mendidikpun dianggap kekerasan fisik, mengganggu mental bahkan menjadikan seorang guru sebagai pelaku kriminal.

Tak terlintas sedikitpun pada kami di grup, tindakan pendidik kami saat itu adalah kriminal. Meski sering dicubit, dilempar penghapus papan tulis, dilempar kapur, dipukul penggaris, dijewer, keliling lapangan sering menghiasi hari-hari kami saat itu, tak terbesit sedikitpun dendam dihati kami. Yang ada adalah rasa rindu yang tak hingga. Tawa menghiasi grup kami. Nostalgia SD yang sungguh luar biasa. 

*Nama disamarkan, mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tidak berkenan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s