cerita 1

Tas Topi

Tahun 1994 di bulan juli.

Teng.. teng.. teng.. 

Bel telah berbunyi, namun hiruk pikuk di sekolah dasar negeri 1 cisarua belum tampak tenang. Masih banyak orang tua murid yang belum selesai mengantar anaknya memulai hari baru di sekolah baru. Termasuk saya dan bapak, yang datang masih memilih tempat duduk. Ya.. hari pertama sekolah saya datang tepat pukul 7. Saat masuk kelas sudah banyak teman lain datang lebih awal.

Bingung memilih teman satu bangku. Saya memperhatikan sekeliling ruangan. Yang tersisa mayoritas bangku belakang. Bapak mengingatkan untuk memilih bangku deretan paling depan, agar lebih jelas melihat ke papan tulis. Tapi sayang semua bangku telah terisi. 

Tiba-tiba ada sebuah tas yang menarik hati. Tas berbentuk topi. Subhanallah, unik sekali. Saya terpesona melihat tas tersebut. Tanpa sadar saya mendekati bangku tersebut. “Tas siapa ini?” Pikirku. Lantas kudengar pertanyaan bapak “mau duduk di sini?” Dengan semangat saya anggukan kepala. Bapak pun memutar pandangan hendak mencari siapa pemilik tas tersebut. 

Seorang anak perempuan berambut panjang. Cantik. Dia menghampiriku dan berkata “ini tas aku” diraihnya tas tersebut seolah tak ingin kehilangan. Melihat itu, seorang ibu menghampiri. “Tak apa, ini kan bangkunya masih kosong, kamu mau duduk di sini?” Dengan ramah ibu tersebut bertanya. Saya anggukan kepala lalu kamipun diminta berkenalan. 

Lina Apriani namanya. Dia teman pertamaku di sekolah. Bahagia rasanya satu bangku dengannya saat itu. Tas topinya selalu membuatku semangat untuk pergi sekolah. Igin rasanya membeli tas seperti miliknya.

Hingga tak terasa, pergantian tahun telah tiba. Hari pertama, saya salah jadwal. Selama satu minggu saya mengikuti jadeal kelas  A. Ya, saat itu jumlah murid yang mendaftar hampir 100 orang. Ruang kelas yang hanya ada enam terpaksa dibagi dua shift. Karena jumlah murid yang jauh lebih banyak dari jumlah kelas. Kelas satu, dua, empat dan lima terbagi dua. Kelas enam adalah kelas terakhir yang jumlah muridnya kurang dari 50 siswa. Sedangkn kelas tiga adalah numlah siswa terbanyak, sekitar 130 siswa, sehingga terpaks dibagi tiga kelas. 

Kembali pada salah jadwal. Karena salah jadwal, dan masuk kelas A, saya mendapat teman baru. Nia Permatasari namanya.  Saat itu saya sangat menyesal karena tidak memperhatikan jadwal. Ingin rasanya kembali ke kelas B. Namun Bu suryatin saat itu menganjurkan untuk ikut jadwal kelas A selama satu minggu. Berat rasanya. 

Sepulang sekolah sya bercerita pada mama. “Tak apa sayang, terima saja. Bukankan itu tak ada ruginya? Malah jadi tambah teman, kan?”

Ya, mama benar. Hari pertama saya sudah dapat tiga teman baru.mungkin satu minggu bisa jadi lebih banyak. 

Satu minggu kemudian.”hana, tak ingin pindah ke kelas A saja?” Tanya bu suryatin. “Tidak bu, saya kembali ke kelas B saja. Di kelas A belum banyak yang saya kenal”. Sungguh, selain jawaban ini sesungguhnya dari hati terdalam. Saya ingin melihat tas topi milik lina lagi. Penasaran rasanya jika tak melihatnya satu hari saja.

Sayangnya, saat kembali ke kelas B, lina telah duduk dengan teman yang lain. Alhamdulillah, masih ada bangku kosong yang bisa ditempati. Nurmalasari, bersedia duduk denganku. Awalnya rasa kecewa mengahampiri hatiku. Alasannya karena tak dapat melihat tas topi lina dari dekat lagi. 

pulang sekolah tiba. Alat tulis dimasukkan semua ke dalam tas. “Eits.. tas nya lucu” sepontan dalam hati melihat tas dengan daun telinga besar. Tas kelinci. Senang rasanya. Meski tak bisa melihat tas topi, kini ada tas kelinci yang bisa jadi pengalihan.

Sungguh luar bisa daya tarik tas topi itu pada saat itu. Daya tariknya bahkan masih dapat saya rasakan hingga saat ini. Unik. Ingin rasanya juga dibelikan tas seperti itu. Namun entah kenapa, saat itu setiap tahun, saya hanya “terima jadi” tas siap, buku siap, alat tulis siap, seragam siap, sepatu siap. 

Ada satu hal yang dapat saya petik dari ingatan tas topi. Anak adalah makhluk individu yang berbeda dari kedua orang tuanya. Alangkan sangat bijak jika kebutuhan Anak dibicarakan terlebih dahulu dengan Anak yang bersangkutan. Tujuannya bukan hanya semangat yg jauh lebih besar pada diri sang anak, tapi juga memberikan keterikatan orang tua dan anak jauh lebih baik.

-sihahertz-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s