Psikologi, Rohani, Sosial-Budaya, Umum

Patuh pada suami karena “Hormat” atau “Takut”?

Dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah Saw. bersabda, Barang siapa beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir hendak-lah ia tidak mengganggu tetangganya. Jagalah pesankutentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan de-ngan baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha untuk melurus-kannya, tulang itu akan patah. Jia engkau membiarkan-nya tulang itu tetap bengkok. Oleh karena itu, jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diper-lakukan dengan baik.” (HR Al-Bukhori dan Muslim)

 

Kita melihat hadist ini menyoroti kelemahan alamiah perempuan. Dalam dirinya ada kebengkokan naluriah yang tidak bisa diluruskan oleh siapapun. Namun, demikianlah tuntutan kebijaksanaan Allah Swt., sebagaimana-termasuk kebijasanaan-Nya– Dia menjadikanlaki-laki memiliki kemampuan untuk memelihara hal ini dengan membawanya pada pergaulan yang baik.

 

Imam Al-Ghazali–seperti dikutip dalam Al-Lu’lu’wa Al-Marjan karyaa Muhammad Fu’ad ‘Abdul-Baqi, h.194–berkata, “Salah satu kewajiban suami terhadap istri adalah memperlakukannya dengan baik. Perlakuan baik kepadanya bukan hanya tidak menyakitinya, melainkan juga bersabar atas perilaku buruk, kelambanan, dan kemarahannya untuk meneladani Rasulullah Saw. Ketahuilah bahwa ada istri beliau yang mengejek beliau dengan mengulang perkataannya dan ada pula yang tidak memedulikan beliau hingga malam. Lebih dari itu, laki-laki dapat lebih bersabar atas perilaku buruk istri dengan humor yang bisa menyenangkan hatinya.”[]

Teringat penggalan pembahasan pada buku –“100 Pesan nabi untuk wanita” karya Badwi Mahmud Al-Syaikh halaman 26-27 oleh penerbit mizania 2009– saat melihat kejadian di perjalanan pulang tadi..

 

seorang suami selalu marah saat melihat istrinya bergaul dengan pria lain, sedangkan suami sendiri tidak mau peduli bahwa istrinya pun merasa tersakiti saat melihat suaminya bersama wanita lain. istrinya bilang “y, aku akui kita itu sebelas-duabelas. aku inginnya dia juga bisa tau apa yang aku rasain. aku punya rasa takut y,, tapi masih suka bandel” –terjemahan dari bhs.sunda–

 

ilmu yang aku dapat dari kejadian itu:

suami itu harus berlaku lembut tapi tidak berarti lemah, harus bersikap tegas yang tidak berarti marah. Dengan sikap itulah, istri jadi memiliki rasa hormat dan patuh yang sesungguhnya, bukan rasa hormah dan patuh karena perasaan “TAKUT”..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s