Pariwisata, Sosial-Budaya

Jika Puncak Banjir, Jakarta Bagaimana?

Tahun berganti tahun, daerah wisata Puncak yang terletak di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor tetap menjadi daerah wisata yang favorit bagi sebagian masyarakat Indonesia. Setiap “weekend” atau mulai jumat sore hingga minggu malam, Jalan Raya Puncak dipadati bus pariwisata maupun mobil pribadi, mayoritas ber-NOPOL B, adapula nopol A, AB, Z, T, BE, E, H atau nopol kota lainnya.

Hingga tahun 2009, masalah kemacetan masih dapat dianggap wajar. Jumlah mobil atau bis pariwisata masih dapat ditampung oleh Jalan Raya Puncak yang tak cukup lebar, maupun tempat parkir di masing2 tempat wisata.

Namun, memasuki tahun 2010, Kawasan Puncak seolah menjadi lautan wisatawan, lautan kendaraan, dan lautan sampah. Salah satu hal yang dianggap menjadi penyebab bertambahnya kemacetan di kawasan puncak yaitu Taman Wisata Matahari. Dengan bertambah satu lokasi wisata yang cukup menarik dengan tiket dan biaya permainan yang cukup murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah.
Hari libur sekolah yang panjang menambah antrian bis pariwisata menuju puncak. Satu rombongan bisa diantar oleh 1, 5, 7, 27 atau 39 bis pariwisata. Tujuan Wisata mayoritas Taman Safari Indonesia, Taman Wisata Cibodas, dan Taman Wisata Matahari.

Tanggal 4 juli 2010 merupakan salah satu hari termacet di kawasan Cisarua. Ratusan wisatawan memenuhi salah satu kawasan wisata di puncak. Wisatawan penuhi jalan raya puncak. Tak hanya wisatawan, bungkusan sisa makanan yang telah mereka konsumsi pun berserakan di sepanjang bahu jalan.
Alhasih, tanggal 5 Juli 2010 pukul ±19.00 puncak diguyur hujan besar, banjir menghiasi baju Jalan Raya Puncak sepanjang kawasan wisata tersebut. Sungguh sedih, melihat kawasan yang indah menjadi lautan banjir, dan jalan dipenuhi sampah.

Banyak warga jakarta mengemukakan argumen bahwa banjir di kawasan jakarta merupakan kiriman dari bogor. Ya, hal tersebut mendekati benar, tapi sungguh tak tahukah? Bahwa wisatawan wilayah puncak turut menyebabkan jakarta semakin banjir? Tak tertib dalam membuang bungkus plastik atau lainnya setelah makanan didalamnya dilahap dengan nikmat.

Juga para hartawan warga jakarta yang menginvestasikan hartanya dengan membeli dan membangun villa dan tempat usaha di kawasan puncak, padahal dari sejak zaman penjajahan Belanda, disebutkan bahwa kawasan puncak bukan untuk dijadikan tempat pemukiman penduduk. Jika diperhatikan wilayah puncak yang berbukit-bukit beresiko longsor jika di pemukiman. Selain itu, pepohonan yang ditebang dapat mengurangi daya tampung air di dalam tanah.

Nah.. Mari kita renungkan jika puncak pun sudah mulai banjir, bagaimana dengan Jakarta yang sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut? Jangan saling menyalahkan, mari mulai dari diri sendiri. Tidak membuangsampah sembarangan adalah solusi yang paling mudah jika semua orang mampu melakukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s